Bagaimana seseorang hidup, begitulah keadaannya ketika meninggal dunia. Apa yang sering diucapkan ketika hidup, itu juga yang akan kita ucapkan saat meregang nyawa.
Sulaiman Al Asyqor menyaksikan seseorang yang sehari harinya selalu bermain catur, maka ketika malaikat maut menghampirinya untuk menjemput ruhnya, kalimat terakhir yang ia ucapkan adalah "skak".
Biasakanlah lisanmu, berkata baik karena lisan mengikuti kebiasaannya, demikian para ulama bertutur. Sakar berarti mabuk, maka mereka yang mengalami sakaratul maut diibaratkan seperti orang mabuk, yang butuh akan peneguhan.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu". (QS Fussilat: 30)
Menurut Syaikh Utsaimin, malaikat itu turun di dunia dan saat sakaratul maut meneguhkan mereka yang istiqomah. Mereka yang terbiasa mencaci, memaki, berkata kata kotor dan dusta, itulah yang mereka ucapkan saat ruh berlepas dari raga.
Kalimat tahlil adalah kalimat yang mudah diucapkan saat hidup, namun ia merupakan kalimat yang sangat sulit saat mata terbelalak menghadapi dahsyatnya sakaratul maut. Karenanya garansi bagi mereka yang mengakhiri hidupnya dengan kalimat tahlil, begitu besar, yaitu syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.
Mereka yang tidak mengamalkan nilai-nilai keislaman, akan sulit mengucapkan kalimat tauhid, walaupun fasih berucap saat ruh dikandung badan.
Mereka diumpamakan seperti burung beo yang pandai mengucapkan kalimat la ilaha illa Allah, namun tidak mampu mengucapkannya saat maut menjemput, karena ketidakpahamannya akan kalimat tersebut dan tidak diikuti dengan pengamalan.
Syahadat tanpa amal diibaratkan seperti kunci tanpa gigi yang tidak mampu membuka pintu syurga. Wallahua'lam
No comments: