Ketika saya mendengar tembang lagu ini (Jendela Kelas - Iwan fals), saya teringat sebuah cerita 35 tahun yang lalu, tepatnya saat saya masih kelas 3 SMP, sesosok perempuan yang manis, penuh senyum dengan rambut panjang sebahu.
Aku dan dia di sekolah yang sama namun kelas yang berbeda (kelas 3), di sebuah Sekolah Menengah Pertama di wilayah Jakarta Utara. Kami sering bertemu dan berpapasan, tapi tak ada yang memulai untuk saling menyapa, aku dan dia hanya berbagi senyum dan tatapan mata.
Mungkin karena kami malu untuk saling menyapa, atau apalah, karena terkadang kita sulit untuk mengerti dan memahami mengapa kita begitu sulit untuk menyapa, mungkin kah… Tidak… saya rasa tidak, mungkin kami hanya malu saja. Aku tahu dia selalu melihatku.
Bel pun berbunyi lantang, itu adalah panggilan kebebasan untukku, harus ku akui hanya bel sekolah lah yang paling ku tunggu semenjak siang pukul 10 sampai pukul 12 siang. Bergegas aku merapikan tasku dan berjalan menuju sebuah lapangan volley sekolahku.
Aku yang siang ini berjalan sendiri karena teman sekelas yang biasanya bersama, hari itu tidak masuk sekolah, entah sakit entah bolos. Hei, aku bertemu dengannya, ya… siswi perempuan manis yang penuh senyum dengan rambut panjang sebahu itu
Entah siapa yang memulai, tapi aku melihat senyumnya, tak kusangka ia tersenyum manis kepadaku, aku pun hanya bisa diam lalu menatap dia yang menatap dalam padaku.
Tak ada yang memulai untuk menyapa, tak ada yang bersuara, kami hanya saling bertatap saja, entah mengapa sedetik kemudian, aku baru menyadarinya, ia begitu manis di mataku. Dan bodohnya aku tak menyapa siswi manis itu, padahal kutahu ia pun tersenyum manis padaku.
Satu kali, kami pun bertemu dan bertatap mata sambil melempar senyum manisnya, aku bertemu dengannya ketika jam istirahat sekolah. Ia tidak menyadari kalau aku berdiri tak jauh darinya terus menatapnya. Ketika aku mendekatinya, ia dan temannya hanya melihatku sekilas lalu berjalan cepat di depanku.
“ … tunggu,” ujarku ketika memanggil namanya, entah mengapa aku tiba – tiba berani memanggil namanya, mungkin itulah yang pertama kali aku memanggil namanya. Ya, nama yang cantik dari pemilik rupa yang cantik pula.
Ia hanya perempuan pemalu, di kelas pun ia hanya berteman dengan teman sebangku saja, aku jarang melihatnya berkumpul dengan geng – geng perempuan cantik di kelasnya, maklum kelas 3-2 terkenal dengan siswi – siswi cantiknya… hehehe.
“Hai,” sapanya suatu waktu kepadaku sambil menatapku dan caranya memandangku membuat aku terdiam. “Kamu yang rumahnya di sebelah rumah teman saya ya (sambil menyebutkan nama seorang siswi tetanggaku),” tanyanya lagi.
Ia pun berlalu cepat di depanku, melewati pintu gerbang sekolah, aku hanya bisa berdiri menatap punggungnya. Teman duduk sebangku denganku memanggil dan aku pun tak lagi melihatnya. … apakah aku mengecewakanmu, ku harap kau tak membenciku, bisikku pelan.
Beberapa bulan kemudian, setelah melewati ujian akhir sekolah, kami pun lulus, tak bisa di gambarkan suasana hatiku pada saat itu, setelah itu aku berencana akan masuk SMA. Tempatku melanjutkan hidup dan memulai belajar dengan serius, sumpah dalam hatiku. Sedangkan dia kudengar meneruskan ke sebuah SMEA Negeri ternama.
Ritual coret-coret pun di mulai, menggunakan coretan spidol, tiba – tiba aku melihatnya sedang duduk di sebuah halaman sekolah, ia hanya tersenyum padaku. Kamu tak ikut mencoret – coret baju, tanyaku ketika mendatanginya. Sayangkan kalau di coret – coret, ujarnya lalu tersenyum lagi padaku, teman sebangku hanya melihat ku saja dan tak berkata – kata.
Setelah ini kamu mau kemana? Tanyaku pelan, ia hanya mengelengkan kepalanya. Mungkin ke SMEA, katanya. Ia pun menanyakan hal yang sama padaku, tapi belum sempat aku menjawabnya, teman – teman kelasku sudah menarik lenganku, sore ini kami ingin merayakan kelulusan. Ia mengangguk pelan kepadaku ketika aku mengucapkan sesuatu padanya.
Lima tahun kemudian, kami bertemu lagi, aku dan dia di halaman rumah salah seorang teman karib. Hari ini, kami akan mengadakan reuni SMP di wilayah puncak.
Aku dan dia hanya saling berpandangan, tapi kami saling berbincang, saling sapa ketika matahari mulai bergerak ke utara Jakarta. Sesekali kami berjalan bersama menyusuri sebuah jalan tempat kami menunggu bis yang mengantarkan kami kembali pulang.
Siapa yang tahu, cinta itu seperti apa. Apakah cinta untuk mereka yang remaja sulit untuk di cerna oleh orang dewasa, oleh para orang tua atau guru. Cinta tak mengenal usia, ketertarikan pada lawan jenis adalah fitrah, rasa tentang suka, rasa tentang rindu, rasa yang membuat kita gembira, senang, penuh harapan dan impian, tapi juga bisa membuat kita sedih, cemas, gelisah dan takut.
Cinta bisa datang kapan saja, bahkan tanpa kita sadari, cinta telah bersemi indah di taman-taman hati, mewarnai hari, membuat cerah mentari dan menghangatkan mimpi-mimpi.
Perasaan suka mungkin tak bisa dihindari, memilih pacaran pada masa remaja mungkin indah dan berseri, tapi bahaya untuk hati, jiwa dan tubuh yang belum siap untuk berjanji. Cinta tak bisa dihindari bagi siswa-siswi sekolah, tapi memilih untuk fokus meniti masa depan lebih penting dari pada hanya sekedar berdua dan melamunkan mimpi-mimpi.
No comments: